Dampak Pergaulan (Filsafat, Psikologi, Syari'at)
07 Sep 2018

Tulisan ini sedikit mencoba merefreskan kembali pikiran kita terhadap dampak dari pergaulan yang dimulai dari tahapan filosofi nya kemudian aspek psikologi nya dan yang terakhir sudut pandang islam.

Marx dikenal seorang filusuf  dan salah satu murid yang dikagumi Hegel, sampai pasal-pasal dari pemikiran Hegel di hafal oleh Marx. Selama ini Hegel dengan teori dialetika nya dianggap seseorang yang berkaki di kepala dan berkepala di kaki, di balikan sebagaimana mestinya, sehingga ada suatu ungkapan yang menjadi poin dan sebagai pemicu dasar dari dimulai nya tulisan ini. Adapun ungkapan tersebut:

"Bukan pikiran yang menentukan pergaulan, melainkan keadaan pergaulan yang menentukan pikiran[1]"

 

 

Jika dilihat berarti kata "kaki" yang dianggap oleh uraian diatas dimaknai sebagai pergaulan dan kata "kepala" dimaknai sebagai pikiran. Kata "pergaulan" menurut penulis masih bersifat umum atau masih mengandung multi tafsir, artinya bisa saja kata pergaulan tersebut di tafsirkan sebagai pergaulan dalam bentuk teman, lingkungan, buku bacaan bahkan pergaulan dalam artian cara menafsirkan pemikiran seseorang.

 

 

Selanjutnya, Carl Gustav Jung seorang filusuf dan psikolog, lahir 26 juli 1875 di Kaswil, Swiss kemudian ia menghabiskan nafas terakhir nya pada tanggal 6 juni 1961 di Kusnacht, Swiss. Dalam psikologi nya di kenal dengan istilah psikologi analitik, membawa teori bahwasan nya dalam diri manusia ada nama nya "Ketidaksadaran: Collective Unconsiouness" berisi ingatan laten tentang hal-hal yang diwariskan dari masa lampau oleh leluhur-leluhur manusia tersebut. Ketidaksadaran kolektif tersebut jika tidak di kendalikan dan menguasai kesadaran dari seorang manusia tersebut dapat menumbuhkan atau mewariskan penyimpanan (sifat) seperti, phobia delusi, rasionalitas, murung, pemalu, pintar, bodoh, introvet, ekstrove atau lainnya. Misalnya: ada sebagian dari manusia tiba-tiba takut ketinggian tanpa sebab apa-apa, tidak pernah mengalami jatuh atau sebab lainnya, hal tersebut bisa di periksa kebelakang kemungkinan ada orang tua atau leluhur-luhurnya yang mengalami atau merasakan ketakutan terhadap ketinggian tersebut, dan leluhur nya tidak bisa mengontrol nya sehingga rasa yang pernah dirasakan tertanam di dalam ketidaksadaran nya dan diwariskan tanpa sadar ke generasi setelahnya.

Dari uraian di atas, dapat di ketahui bahwa pola pikir juga di bentuk dari keadaan pergaulan dan bisa berdampak pada psikologi seseorang. Terlepas dari faktor-faktor lainnya, pergaulan juga menjadi salah satu  metode pendekatan yang digunakan oleh C.Gustav Jung untuk menguraikan sifat-sifat yang dikemukakan di atas. Sehingga  pergaulan yang baik dan buruk bisa berdampak pada pola pikir dan pola pikir bisa di wariskan (tanpa sadar) ke generasi atau keturunan setelahnya. Berbicara tentang keturunan, jauh sebelumnya islam sudah membahas perkara tersebut hal ini bisa di lihat dalam teori Maqashid Syari'ah (Tujuan Syari'at), salah satu nya di kenal dengan istilah Hifdzu Nasl (Menjaga Keturunan). Menurut penulis dengan pola pikir progresif salah satu cara mengindahkan hifdzu nasl yaitu dengan cara menjaga pergaulan tanpa mengurangi rasa sosial terhadap lingngan lainnya.

Kesimpulan:

Baik buruk nya suatu pergaulan tetap akan berdampak pada pola pikir seseorang, pola pikir tersebut dapat diwariskan  ke generasi setelah nya tanpa disadari.

Saran

Sadarilah, pergaulan yang kita jalankan sekarang akan membentuk pola pikir kita kedepannya, dengan menjaga pergaulan yang baik berarti kita telah mewariskan sesuatu yang baik terhadap keturunan kita, dan jangan salah hal tersebut akan menjadi amal jariyah yang kelihatan nya sepele tapi berdampak panjang dan luas.

BERITA LAINNYA
Pandangan Psikologi terhadap Orangtua yang Menjadi Penyebab Terjadinya Kenakalan Remaja
Selengkapnya
Ketika 'Sang Introvert' Menguasai Panggung
Selengkapnya
COPYRIGHT @ 2019 - DEDIKASI PSIKOLOGI