Kangen adalah seorang gadis sederhana yang baru saja memasuki sekolah menengah pertama di kampungnya, ia tinggal bersama bibi dan pamannya, ibunya merantau ke luar negeri sebagai TKW semenjak setahun setelah kematian ayahnya tiga tahun lalu. Kangen hanya tinggal bertiga di rumah kecil pamannya karena paman dan bibi tidak memiliki anak, Kangen sayang pada bibi dan pamannya, ia menganggap dan memperlakukan mereka seperti orangtua sendiri meskipun tidak sebaliknya.
Keluarga Kangen tinggal di lingkungan yang mayoritas pendidikan masyarakatnya hanya sebatas lulus SD, sumber daya alam yang terbatas dan iklim yang tak menentu di kampung itu menjadi alasan klasik muda-mudi seusia Kangen akan merantau ke kota untuk bekerja. Hanya anak-anak dengan keinginan kuat untuk berpendidikan yang melanjutkan ke SMP lokal yang bangunannya mulai rapuh dengan guru-guru kurang sejahtera, sembari bekerja membantu orangtua di ladang atau sawah yang hasilnya tak seberapa.
Suatu hari, Kangen akan pergi ke pasar malam bersama teman-temannya, ia memakai setelan rapi dengan rambut digerai dan mengoles lipbalm merah muda di bibirnya, Kangen terlihat makin cantik. Ia pamit pada paman dan bibi dengan mengetok kamar mereka, namun yang keluar hanya paman, Kangen bertanya kemana bibi, dijawab tidak tahu. Kangen menyadari pamannya memperhatikan dirinya dari bawah sampai atas, ia lalu buru-buru keluar rumah. Kangen berjalan gontai menyusul ke rumah temannya yang lumayan jauh, melewati warung kopi yang dipenuhi laki-laki bermacam usia. “Hai cewek, seksi banget sih.. senyum dong.” Kangen mempercepat jalannya setelah menerima catcalling dari seorang pemuda yang nongkrong di warung tadi. Kangen cukup sering mendapat pelecehan seksual di ranah publik seperti itu, dan satu-satunya respon yang ia berikan adalah menatap sinis pada pelaku lalu secepat mungkin menjauh.
Sesampai rumah salah satu temannya, Kangen mendengar teriakan dan isak tangis temannya dari dalam rumah, ia gamang berdiri di depan pintu, enggan mengetuknya, didengarnya temannya yang bernama Sepi itu menangis histeris menyebut-nyebut ibu, “Ibu.. Ibu.. Buu!!!” Kangen memberanikan diri mengetuk pintu rumah yang hendak roboh itu. Tak ada respon, ia kemudian memanggil-manggil nama Sepi, tetap tak ada jawaban, Kangen memutuskan masuk dan ia menemukan Sepi sedang meronta sendirian di lantai ruang tamu.
“Ayahku menjual ibu ke juragan karena ayah butuh uang buat minum-minum dan judi”, kata Sepi lirih dengan isak tangis yang menyesakkan dadanya. Aku segera memeluknya, kenyataan pahit yang sering kita temui pada masyarakat miskin dan tak berdaya karena masalah struktural yang seakan susah dituntaskan. Ibu Sepi adalah contoh perempuan yang dijadikan komoditi oleh suami sendiri yang dalam dirinya dikuasai nafsu dan ego. Kangen bertanya pada Sepi apakah ibunya tidak punya kekuatan untuk melawan?, dijawabnya bahwa ayahnya mengungkit masalah biaya rumah tangga yang selama ini diterima oleh Ibu Sepi dan Sepi, ayahnya berkilah bahwa juragan hanya akan meniduri ibunya beberapa minggu, setelah itu Ibu Sepi akan diantar pulang dengan banyak uang pesangon. Ibu Sepi meratap lemas pada Sepi sebelum berangkat, dalam pikirannya ia harus bisa mengalahkan ketakutan yang luar biasa dan menghilangkan sebagian akal sehat agar dapat membantu suami dan kebutuhan rumah tangga seperti yang dikatakan suaminya. Ayah Sepi telah melakukan gaslighting terhadap Ibu Sepi dan tindakannya itu merupakan kekerasan seksual dalam ranah privat karena telah mengeksploitasi istrinya.
Setelah menenangkan Sepi, Kangenpun pulang ke rumah dan tak jadi ke pasar malam, ia ngilu dan tiba-tiba merindukan ibunya. Ia sampai rumah dan menemukan bibinya sedang menyetrika baju tetangga untuk mendapatkan sedikit uang belanja, pamannya sedang menonton bola ditemani sepiring pisang goreng yang sudah dingin. “Buk, mana kopinya?” terdengar suara paman menyeru istrinya, bibi segera beranjak ke dapur. Kangen sudah hafal, tak akan ada penolakan dalam kondisi apapun karena pamannya akan mengomeli bibinya sebagai istri yang tak patuh dan tak tahu diri. Sebuah sikap patriarki yang melekat erat dalam jiwa-jiwa lelaki kurang wawasan dan pendidikan.
Keesokan harinya, seorang tetangga berkunjung ke rumah paman Kangen untuk menemui bibinya. Sebelum pergi memanggil, bibinya sudah nampak di ruang tamu dan langsung menanyakan maksud si tetangga. “Saya mau menawarkan pekerjaan ke ibu, bantuin saya bikin kue kering buat pesanan hari raya. Ibu kan juga jago bikin kue tradisional, boleh nanti kita bikin untuk dijual, saya modalin.” Ucap si tetangga.
Kangen melihat wajah bibinya yang berseri, selama ini ia ingin memulai bisnis makanan tapi tak punya cukup modal, tak juga dapat dukungan dari siapapun di keluarganya. Namun senyum bibi itu tak bertahan lama sebab terkikis oleh suara paman yang baru bangun, “Ya boleh aja kalau mau kerja tambahan, asal kebutuhan suami sudah terpenuhi. Ingat ya kamu itu sudah aku nafkahi, kalau kurang ya itu urusanmu. Kalau mau cari uang ya ingat kamu itu perempuan dan seorang istri, gak usah banyak gaya buka usaha, mau saingan sama aku?” Bibi Kangen hanya diam dengan muka masam, malu atas perkataan suaminya yang didengar si tetangga baik hati. Sebuah sikap nyata seorang laki-laki yang memarginalisasi perempuan dan membawanya pada titik subordinat.
“Nanti saya saja yang ke rumah Ibu, ya. Maafkan suami saya.” Ucap bibi pada si tetangga, wajahnya tak bisa menyembunyikan rasa kecewa pada ucapan suaminya yang selain bias gender dan seksis, juga mematahkan semangat dan mimpinya.
Di dalam keluarga paman dan bibi Kangen, sudah terlalu jelas siapa yang perannya lebih dominan dalam pengambilan keputusan, dan bibi dengan inferioritas nyata kalah telak termakan budaya yang mengagungkan laki-laki.
Satu bulan berlalu, terhitung sudah dua minggu lebih bibi Kangen mulai usaha kue tradisional bersama tetangganya, bibinya sesekali pulang larut malam dan lebih sering sudah di rumah sebelum maghrib. Ia melihat perubahan di raut wajah bibinya, lebih berbinar mungkin karena ia bisa berproses pada sesuatu yang selama ini ia inginkan. Ia juga tidak lagi mengambil baju para tetangga untuk disetrika, uang yang didapat sudah cukup untuk menambal kebutuhannya.
Namun pada suatu hari, bibi Kangen belum pulang hingga jam 11 malam, paman tidak berangkat mencari bibi ke rumah tetangga yang lumayan jauh untuk menjemput bibi, ia hanya mengomel dan menyalahkan istrinya, sesekali Kangen ikut kena batu dengan dalih Kangen mendukung bibinya memulai usaha yang kata paman tak jelas itu. Sejam, dua jam, tiga jam, belum juga bibi pulang, saat paman akan berangkat mencari, terdengar rem piet bibi di samping rumah. Bibi membuka pintu dengan wajah sayu dan penampilan berantakan, Kangen dan paman kemudian tahu bahwa bibi telah diperkosa oleh suami si tetangga baik alias majikannya saat si majikan pamit ke luar kota. Paman marah dan menyalahkan bibi, Kangen menenangkan bibi dan berkata padanya bahwa bibi harus melaporkan kejadian ini ke polisi. Bibi dengan cepat menggeleng, ia takut akan ancaman suami simajikan dan mimpinya memiliki toko kue tradisional terhambat. Bibi benar-benar terjerat dalam relasi kuasa, ia terus menangis dan kemudian bertanya pada Kangen apakah pakaiannya kurang sopan, sebab alasan tersebut dipakai oleh si pemerkosa melakukan victim-blaming pada bibi.
Ketimpangan relasi antara bibi dan majikan juga menjadikan masalah kekerasan seksual ini rumit dan seringkali berakhir dengan damai.