“Diduga Depresi, Seorang X Bunuh Diri”: Catatan Psikologi Untuk Jurnalisme Dan Masyarakat Indonesia
10 Jun 2026

Bunuh diri dan depresi tidak selalu beriringan seperti yang disangkakan orang. Hal ini menjadi informasi penting yang perlu menjadi bahan koreksi dari tajuk-tajuk umum berita mengenai aksi bunuh diri. Sebagaimana berita yang baru dirilis kemarin, “Diduga Depresi akibat Ditinggal Cerai, Pria Asal Bima Bunuh Diri di Kebun Jagung” yang tayang di Kompas.com. Artikel tersebut hanyalah salah satu dari sekian banyak berita tentang aksi bunuh diri seseorang yang senantiasa dikaitkan dengan depresi. Padanan bunuh diri dengan depresi sudah populer di kalangan pewarta maupun masyarakat.

Fakta sains mengungkapkan aksi bunuh diri yang dilakukan seseorang dapat terjadi tanpa depresi. Dikutip dari artikel “Many Suicide Attempters Have No Active Suicidal Thoughts” pada PsychologyToday.com, aksi bunuh diri bisa saja dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki depresi. Namun bukan berarti seseorang yang melakukan aksi bunuh diri tidak memiliki sebab khusus. Aksi bunuh diri selalu berakar pada keinginan untuk mati (suicidal ideation). Keinginan untuk mati dalam benak seseorang terkadang bersuara tegas (active suicidal ideation) dengan pikiran “Aku seharusnya mati saja”, namun terkadang juga bisa dalam bentuk lain tanpa melibatkan kata mati (passive suicidal ideation), seperti “Aku berharap...aku sirna dan menghilang”.

Riset tersebut nampak sesuai dengan berbagai kasus bunuh diri yang terjadi pada masyarakat. Sebagian besar dari pelaku bunuh diri di masyarakat tidak menunjukkan gejala depresi yang memenuhi standar diagnosa klinis. Alasan di balik aksi bunuh diri hanya sekedar disimpulkan dari masalah atau kesedihan yang dialami orang tersebut kemudian dilabeli sebagai depresi. Salah kaprah menyamakan kesedihan dengan depresi sepertinya menjadi pemicu lain kekeliruan atribusi dalam kasus bunuh diri di Indonesia. Perasaan sedih memang bagian kecil dari depresi, namun tidak bisa mewakili hakikat dari depresi.

Jurnalis maupun masyarakat hendaknya tidak gegabah dalam menyematkan kata depresi kepada pelaku bunuh diri agar kekeliruan ini tidak berlanjut. Penyebab bunuh diri tidak selalu depresi. Kesedihan akibat permasalahan hidup bisa memunculkan niat bunuh diri dalam waktu singkat tanpa melewati tahap depresi. Hindari pemakaian istilah depresi dengan tujuan hiperbolik atas peristiwa bunuh diri yang terjadi. Pola judul “Diduga depresi, seorang X bunuh diri”
tidak perlu kita teruskan lagi.

 

Source:

https://regional.kompas.com/read/2022/07/14/150114178/diduga-depresi-akibat-ditinggal-cerai-pria-asal-bima-bunuh-diri-di-kebun

https://www.psychologytoday.com/intl/blog/finding-new-home/202207/many-suicide-attempters-have-no-active-suicidal-thoughts

Source gambar: google

ARTIKEL LAINNYA
Kesuksesan bagi Wanita Karir Indonesia, seperti apa?
Selengkapnya
Kolektivisme dan Efikasi Diri: Energi Insan Heroik Indonesia
Selengkapnya
Berkenalan dengan University in Diversity, jalan mencapai Bhinneka Tunggal Ika
Selengkapnya
Aborsi Legal Sebagai bagian Hak Asasi Manusia
Selengkapnya
Kisah Seorang Kangen
Selengkapnya
COPYRIGHT @ 2019 - DEDIKASI PSIKOLOGI